Showing posts with label Opin. Show all posts
Showing posts with label Opin. Show all posts

Thursday, July 23, 2009

Diambang krisis pangan, benarkah?


"Sudah dua musim tanam ini kami tidak panen." keluh seorang petani. musim yang tidak menentu, harga panen yang rendah, mahalnya biaya saprotan, juga serangan hama dan penyakit tanaman memperparah keadaan. lahan yang semakin sempit juga membuat produksi pangan menurun.

pangan adalah komoditas strategis yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak. kekurangan pangan akan berdampak pada banyak sendi. diperlukan kerjasama beragai pihak ntuk memenuhi kebutuhan ini. bukan bergantung pada petani, pedagang atau importir. namun pada kebijakan dan perlindungan pemerintah terhadap sektor ini.

Monday, April 6, 2009

dunia menuju Unifikasi

Dunia menuju unifikasi, sepertinya ini adalah sebuah keniscayaan.
karena state-nations telah terlihat kegagalan dan kelemahannya.
unifikasi eropa menunjukkan pada kita kalau yang namanya "Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh" itu memang benar. memang si bersatunya eropa dilandasi keuntungan ekonomi tapi tetap ajakan dengan bersatu mereka lebih kuat, paling ga lebih bisa menanggung resiko dan menghadapi amerika.

trend unifikasi alias bergabung/bersatunya negara-negara dunia saat ini semakin gencar setelah dunia dihajar krisis keuangan global (krisis ekonomi tahap 2). ternyata uang kertas yang tidak ditopang emas dan perak, serta uang yang dijadikan komuditas dan kenyataan bahwa "kepercayaan" diperjual belikan membuat perekonomian menjadi labil dan pada akhirnya ambruk, bisa-bisa john maynard keynes nangis di dalam kuburnya karena teori tentang uangnya justru banyak bikin orang jadi gila dan bunuh diri... (kasian deh..).

selain eropa, Asean saat ini juga sedang menggagas mata uang bersama kemudian Cina juga melontarkan opini untuk menciptakan mata uang dunia selain dolar As, see... sepertinya sekarang tinggal tunggu waktu aja sebelum amerika serikat itu runtuh. meski di awali dengan penyatuan mata uang rasanya tidak akan lama untuk menyatukan hal lain, sekarang saatnya kita memberikan alasan logis dan idealis bagi bersatunya negeri-negeri Islam.......

Thursday, January 22, 2009

oedipus complex dan krisis karakter

Oedipus Complex dalam aliran psikoanalisis Sigmund Freud merujuk pada suatu tahapan perkembangan psikoseksual di masa anak-anak saat anak dari kedua jenis kelamin menganggap ayah mereka sebagai musuh dan saingan dalam meraih cinta secara eksklusif dari ibunya.

Oedipus diambil dari mitologi yunani, namun ada beberapa kalangan yang menganggap bahwa Oedipus adalah raja thebes, yang menikahi ibu kandungnya dan membunuh ayahnya.

Pada saat ini Oedipus complex digunakan sebagai penyebutan bagi para pria yang menyukai wanita yang lebih tua. Ada banyak pesohor menyukai wanita yang lebih tua, meski mereka berkilah tidak mengidap Oedipus complex.

Kedewasaan adalah alasan yang sering diajukan para pria ini, ketika mereka memilih wanita yang lebih berumur. Tidak bisa dipungkiri kedewasaan kadang identik dengan deret usia seseorang, meski tidak selamanya tepat. Stimulasi media, pendidikan saat ini, dan pola pengasuhan keluarga, serta lingkungan (peer group) adalah hal yang mempengaruhi kematangan seseorang. Dengan gencarnya gempuran media saat ini anak-anak menjadi lebih cepat dewasa secara seksual tapi tidak secara mental. Tontonan dan bacaan yang tidak mendidik mudah didapat, namun rasa tanggung jawab dan kemampuan menyelesaikan masalah sangat sulit didapat. Sehingga anak-anak yang seharusnya masih ‘anak-anak’ sudah menjadi “dewasa”, namun ketika menghadapi masalah ternyata masih “anak-anak” atau orang dewasa yang ternyata masih anak-anak dalam menghadapi persoalan

Karakter adalah sesuatu yang dibentuk oleh pemahaman (yang didapatkan dalam pendidikan), lingkungan. Karakter anak-anak saat ini yang mau mudahnya saja, tidak mau berusaha, hedonis, dan serba instant merupakan kesulitan sendiri dalam menjalin sebuah hubungan yang dewasa dan penuh tanggungjawab. Karena ketidak mampuan inilah membuat tidak sedikit para pria menyukai wanita yang lebih berumur yang notebene lebih matang.

Dari sisi wanita sendiri, menikah dengan pria yang lebih muda selalu menjadi kesulitan tersendiri. Karena pada dasarnya wanita berharap pria (suami) dapat menjadi pemimpin baginya dan pengambilan keputusan bagi rumah tangganya, yang terkadang tidak dipenuhi oleh pria yang lebih muda ini. Belum tuntutan yang lain.

Pada dasarnya apapun bentuk hubungan antara pria dan wanita, islam memiliki aturannya sendiri. Islam mengatur bahwa hubungan pria dan wanita diikat dalam pernikahan, dimana didalamnya iman dan taqwa adalah standar utama, bukan usia, materi atau penampilan, bahkan prestise. Pada akhirnya Oedipus complex or not, selama iman dan taqwa dijadikan patokan maka perjalanan hubungan tadi akan menuju pada akhir yang bahagia, karena masing-masing pihak memahami hak dan kewajiban masing-masing.

Wallahu ‘alam….